Fiksiminiku: 19 Desember Tiada angin, pagi ini, kebun di samping rumah tenang. Dedaunannya tidak bergoyang. Entahlah semua sedang apa. Apa mungkin, sedang bengong m...
Fiksiminiku: Dengan Sepotong Pensil Air mata ini, hanya bisa tergenang di pelupuk mata, di malam yang tersiram hujan, untuk para pembantu rumah tangga di Medan, yang disiksa d...
Fiksiminiku: Saat Rumput Tampak Nikmat Dari dulu, rerumputan itu tumbuh di pematang. Bentuknya sama, suburnya sama, hijaunya sama, namun sekarang, rumput itu jadi berbeda. Di mata...
Fiksiminiku: Sebagai Penulis Sukses Sebagai penulis sukses, terkadang saya heran kepada penulis gagal. Selama ini, karya saya terus diburu penerbit, dan mereka rela korban bera...
Fiksimini: Belum Juga Menghasilkan Kotoran Saya coba hidup bertani, namun bingung cari pupuk. Untuk itu, datang ide mengurus kambing. Dan Pak Wawan yang baik, membuatkan saya kandang ...
Fiksiminiku: Tips Sukses Menurut Emod "Hidup di kota, harus bisa menjadi orang kota. Hidup di desa, harus bisa menjadi orang desa. Jangan sebaliknya, hidup di kota malah jad...
Fiksimini: Sangkar Udin Hari Minggu ini, Udin sibuk garap sangkar burung. Sangkarnya sudah ada. Bekas Karto, pencinta burung juga. Tinggal pasang pintunya. Pintu...